February 20, 2019
  • 2:53 pm “PENGAKUAN PETRUS; ENGKAULAH MESIAS”
  • 1:58 pm “SUDAHKAH KAU LIHAT SESUATU?”
  • 3:09 pm WASPADALAH TERHADAP RAGI ORANG FARISI
  • 11:49 pm JANGAN MENCOBAI TUHAN MU
  • 2:34 pm BERKAT DAN KUTUK

Mengapa Gurumu Makan Bersama Pemungut Cukai dan Orang-orang berdosa ?
Mat 9:9-13

Yesus dalam Injil Mateus yang pestanya kita rayakan hari ini, kembali menampilkan peristiwa Yesus yang menjadi bahan perbincangan dan juga menjadi topik perdebatan. Bagi orang farisi dan ahli-ahli Taurat, orang berdosa dan pemungut cukai adalah haram bagi mereka untuk bergaul, apalagi duduk makan bersama sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus. Dengan pertanyaan “mengapa” kita bisa langsung mengerti bahwa ada sesuatu yang tidak beres yang harus diperbaiki atau harus dihindari. Dengan alasan berpegang pada tradisi dan hukum taurat, mereka membuat sebuah jurang pemisah antara orang yang suci dan orang berdosa. Hal inilah yang bertolak belakang dengan misi perutusan Yesus. “ Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit”. Setiap perbuatan dan aktivitas Yesus selalu menjadi tanda tanya besar dalam pikiran orang Farisi dan Ahli Taurat.Yesus selalu dipertanyakan, karena Pribadi Yesus sendiri adalah lain dari yang lainnya. Yesus selalu lain, selalu tampil beda dengan terapan Ahli Taurat dan orang Farisi.
Yesus dalam semua tindakan-Nya, selalu menunjukkan identitas diri-Nya yang sebenarnya yakni Ia sendiri adalah pribadi yang lebih besar dari pada tradisi dan hukum taurat. Hukum taurat dan tradisi merupakan ciptaan manusia yang tidak langgeng, yang kerap kali sama sekali tidak memperhitungkan perkembangan dan perubahan situasi. Lebih jeleknya lagi bahwa hukum mengabaikan Hak Asasi yang menjadi tuntutan manusia untuk memperoleh kehidupan yang pantas dan layak dimata manusia dan di hadadapan Allah. Yesus mau mengubah pola pikir dan pola tingkah laku pengikutnya untuk mengutamakan identitas manusia sebagai citra Allah. Yesus mengubah pola pikir Ahli taurat dan orang farisi bahwa kehadiran Yesus adalah sebuah hukum yang sempurna yaki Ia sebagai “Jalan, Kebenaran dan Hidup”. Yesus mendobrak kesesatan pemikiran Ahli Taurat dan Orang Farisi tentang misi Mesianis-Nya yakni tampil sebagai Penebus dan Pembebas. Hukum dibuat untuk manusia dan bukan manusia untuk hukum. Hidup yang benar adalah hidup yang mengutamakan belas kasih daripada korban. Melayani sesama yang sakit dan menderita dan bukan yang sehat.
Yesus juga menyatakan sebuah revolusi bahwa para pemungut cukai dan orang berdosa bukan larangan dalam pergaulan. Mereka harus didekati dan ditobatkan untuk kembali kepada jalan benar dengan kehadiran kita, bukan membuat pagar pemalang dan larangan bergaul. Bukan membut titel dan cap baru untuk mengucilkan orang. Bukan orang sehat yang memerluan tabib tetapi orang sakit. Yesus mengutamakan belas kasih dan pengampunan. Orang sakit/ berdosa perlu mendapat tempat dalam kebersamaan untuk mengubah dirinya. Dan tidak perlu kita menganggap diri kita sebagai yang paling hebat dan paling benar dihadapan sesama. Yesus mengajarkan bahwa kita tidak perlu membuat diskriminasi dan mengucilkan, rasa jijik dan membuat penolakan, mengadili, meremehkan danmenghukum sesama. Yesus tidak mengajarkan para muridnya untuk memperoleh kesucian hidup dengan menjauhkan diri dari dunia orang berdosa. Pergaulan yang suci adalah pergaulan yang mampu mengubah pribadi orang menuju kepada pertobatan dan mengubah diri menuju pembaharuan diri dan hidup.

Selamat Pagi
Tuhan Memberkati

Komsos-KL

komsoslarantuka

RELATED ARTICLES

3 COMMENTS

  1. Nining Yuliati Posted on September 21, 2018 at 1:29 am

    Am8n….🙏😇🙏

    Reply
  2. Nining Yuliati Posted on September 21, 2018 at 1:30 am

    Amin…. 🙏😇🙏

    Reply
  3. Emily sabinus Posted on September 21, 2018 at 4:48 am

    Tuhan Yesus Memberkati
    Amen

    Reply
LEAVE A COMMENT