January 21, 2019
  • 11:39 pm SUKACITA BERSAMA PENGANTIN
  • 4:55 am MENGISI TEMPAYAN HATI DENGAN IMAN DAN BELAS KASIH
  • 3:48 am BERUSAHALAH DAN TUHAN AKAN MENYEMPURNAKANNYA
  • 9:18 am AKU MAU, JADILAH ENGKAU TAHIR
  • 11:52 pm TUHAN BERTINDAK MEMBEBASKAN MANUSIA

Hari kedua Temu Akbar III Orang Muda Katolik Keuskupan Larantuka diisi dengan pelatihan berwirausaha. Di setiap paroki live in dengan materi yang berbeda sesuai situasi kondisi alam dan lingkungannya, melatih setiap OMK untuk berjiwa wirausaha. Tidak perlu mengandalkan biaya dan waktu yang banyak untuk memajukan ekonomi dan kreativitas diri. Orang muda memiliki kemampuan yang luar biasa dan ketika disandingkan dengan kekayaan alam dan lingkungan maka dengan sendirinya Orang Muda telah memiliki modal hidup yang tak mungkin hilang. Kemampuan diri dan kreativitas OMK harus selalu dipacu untuk semakin percaya diri bahwa OMK bisa dan mampu untuk mandiri dalam hidupnya. Animasi dan motivasi perlu dan dipandang sangat penting juga mendesak di zaman ini agar orang muda memiliki kepercayaan diri untuk mengekspresikan dirinya. Menarik di hari kedua ini, bahwa kegiatan selalu dikoordinasi oleh Pastor Paroki dan Dewan Pastoral Paroki masing-masing. Para pemateri dan nara sumber juga beranekaragam.

Di Paroki Live In St.Yoseph Riangkemie, kaum muda yang berasal dari Paroki Kalikasa, Boto, Kiwangona dan Ritaebang diberi motivasi oleh Ibu Loretha (Bunda Sorghum), Ibu Ety Tokan dan Romo Ketua YASPENSEL Keuskupan Larantuka; RD Benyamin Daud terkait pengelolaan sorghum dan manfaatnya juga prospek berwirausaha bagi kaum muda. Kegiatan pelatihan yang dilaksanakan di pusat paroki diawali dengan pemberian motivasi. Selanjutnya kaum muda dibagi dalam kelompok dan terlibat dalam semua proses mulai dari persiapan lahan, tanam, panen dan pengelolaan hingga penyajian.

Ibu Loretha; “Bunda Sorghum” dalam motivasinya mengatakan bahwa berbicara soal kewirausahaan sama halnya berbicara soal kemandirian. “Semua orang punya kemampuan memecahkan dan mengatasi masalah dari pada menyalahkan orang lain. Kewirausahaan sosial adalah kewirausahaan yang berdampak bagi banyak orang. Kaum muda sudah saatnya berpikir menjadi wirausahawan dari pada berorientasi menjadi PNS.”

Sebagai ole-ole, tiap kelompok dari masing-masing paroki diberi bibit untuk selanjutnya dikembangkan di wilayah paroki masing-masing. Agar tidak sekedar menjadi ole-ole, akan ada waktu masing-masing kelompok dimonitoring oleh Tim Sorghum yang terdiri dari Ibu Loretha, Romo Benyamin Daud, Pr, dkk. “Bibit yang kami titip sebagai ole-ole ,akan kami cek di kemudian hari.Jangan lupa pulang ke paroki masing-masing dan kembangkan ini.”,pungkas Romo Benya.

Di Paroki  Sta. Maria diangkat ke Surga Lewokluok-Bama 30 (Tiga puluh) anak muda asal paroki Lite yang berlive-in  di Stasi Heras (Mokantarak) diberi  motivasi dan pelatihan berwirausaha  dalam bentuk materi  tentang analisis  SWOT dalam memulai sebuah usaha. Tampil sebagai materi adalah, Petrus Ike Goran, SH, Kepala Desa Bama yang pernah menjabat sebagai koordinator ekonomi WVI ADP Flores Timur. Petrus menegakan bahwa: “Perkembangan jumlah sarjana dari tahun ke tahun terus meningkat sehingga peluang kerja di Instansi-Instansi pemerintah atau swasta semakin sulit. Oleh karena itu, diharapkan materi ini dapat memberikan pemahaman kepada peserta untuk mampu melihat peluang usaha yang ada di sekitar. Di lain pihak, adanya jiwa  wirausaha bisa membuka lapangan kerja baru sekaligus menyelamatkan kaum muda yang putus sekolah atau tingkat pendidikannya rendah untuk memperoleh pekerjaan.

Di Paroki St. Antonius dari Padua Leworahang pelatihan terjadi dengan dua materi yakni pelatihan ketrampilan mengkacip mete dan ketrampilan membuat brouse (pin) dari kerang laut. Pematerinya adalah kelompok usaha kacip mete dan kelompok “Mama Sayang” asuhan Delsos Keuskupan Larantuka.

Pembuatan pupuk bokasi terjadi di Paroki St. Ignasius, Waibalun,  Paroki Sta. Maria Pembantu Abadi, Weri dan Paroki St. Darius, Riangpuho.  Yang membedakan ketiganya adalah  paroki Riangpuho dengan  bokasi yang dihasilkan adalah bokasi kering dengan pematerinya adalah Pastor Paroki, Rm. Paulus Nunang, Pr.

San Juan Lebao tampil dengan 4 (empat) jenis pelatihan ketrampilan yakni ketrampilan mengolah sorghum jadi kue, ketrampilan membuat pot bunga, keterampilan salon kecantikan dan pembuatan pupuk bokasi. Pematerinya adalah Ibu Natalia, Nar Nama Tukan, Bapak Bala, Denada dan Echa salon.

Paroki St. Yoseph, Lewotobi dengan tiga pelatihan ketrampilan yakni ketrampilan meubel dari bambu, pembuatan perlengkapan rumah tangga dari tempurung kelapa dan membuat hiasan dari koran bekas. 

Ketrampilan menenun dan ketrampilan mengelola kelapa menjadi minyak kelapa murni (VCO) terjadi di paroki St. Alfonsus de Liquori, Lewotala. Mama-mama yang telah berusia lanjut dalam kesabarannya melatih orang muda untuk bisa mempertahankan dan meneruskan ketrampilan yang hampir punah ini. Ini adalah ketrampilan yang sangat sulit untuk orang muda zaman ini, Orang Muda lebih banyak menggunakan tanpa menghasilkannya karena tidak mau terlibat dalam proses, demikian tutur pelatih tenun ikat Paroki Lewotala.

Paroki Sta Maria Ratu Semesta Alam, Hokeng  mengadakan pelatihan ketrampilan budi daya tanaman pekarangan. dan paroki tetangganya Kristus Raja Semesta Alam Watobuku dengan ketrampilan meubel bambu.

Satu lagi kekhasan paroki Sta. Maria La Salette, Lato, Asuhan Pastor MSF, dengan ketrampilan membuat wedang serai dan Paroki Imakulata Lewolaga dengan animasi ketrampilan menganyam dan  memproduksi madu asli dalam bentuk kemasan.

Begitu banyak pelajaran dan ilmu menarik yang diterima Orang muda pada hari ini, baik dari orang tua dan pendahulu, maupun dari sesama OMK sendiri. Ketrampilan gratis tanpa biaya yang diterima untuk mengembangkan kemandirian setiap orang muda. Mari bangkit menuju masa depan yang mandiri dan sejahtera.

 

Menjadi sahabat: berbagi sukacita Injil.

Hasil Pantauan tim media center

                                                                                    =Ronal=

 

 

 

komsoslarantuka

RELATED ARTICLES
LEAVE A COMMENT