Seni adalah karya manusia yang di dalamnya menampilkan estetika atau keindahan. Seni dapat mengungkapkan intisari makna dan kreativitas yang ada pada karya ciptaan manusia itu sendiri. Setiap orang diberikan talenta dan bakat khusus oleh Sang Pencipta. Di sini, masing-masing orang bertanggung jawab, menemukan dan mengembangkan yang ada pada dirinya.

Dekorasi panggung dan latar belakang menjadi bagian dari sebuah ekspresi dan karya seni manusia. Dengan kata lain, dekorasi menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah acara atau kegiatan. Tak bisa dipungkiri, kadang kerja orang-orang di belakang layar terlupakan. Karya seni  adalah bentuk ekspresi jiwa manusia. Karya seni juga merupakan hasil jeri payah manusia yang menggunakan imajinasinya.

Pada momen Temu Akbar kali ini, seksi Dokumentasi dan Publikasi akan menceritakan sedikit tentang ide dan konsep, proses dan aktor-aktor yang bekerja menyukseskan acara Temu Akbar OMK ini.

Ide dan konsep dekorasi bersumber dari ketua sendiri Deni de Rosari di bawah kendali RD Tote da Silva. Dalam wawancara singkat dengan Bung Deny, beliau mengatakan bahwa desain panggung dikerjakan selama 3 (tiga) hari. “Untuk pengerjaan panggung sendiri dikerjakan selama 2 minggu, bersama anggota seksi”, ujarnya.

Selain pencetus ide, Bung Deni de Rosary, sang maestro dekorator taman mini di bawah panggung Bapak Don Kleden dan penata pencahayaan Bung Hurint juga terlibat dalam desain kemegahan panggung ini.

“Kami mengambil konsep alami dengan tema lokal, karena dekorasi sangat mempesona . Di sini kami tetap menyederhanakan konsep namun dapat diakses oleh para peserta dan semua yang menyaksikan. Kami tidak ingin dipuji, tapi kepuasan batin kami membuat orang-orang yang melihat karya-karya kami. ”, Cetus Don Kleden, pencipta taman mini.

Untuk mengetahui, dekorasi di panggung utama 3 (tiga) orang pekerja seni yang sehati menuangkan ide dan keterampilan mereka dalam menyukseskan kegiatan Temu Akbar III OMK Keuskupan Larantuka.

Lebih Lanjut Bapak Don Kleden, mengatakan bahwa; “Konsep air terjun yang mengalir sebagai simbol dari hidup iman kekatolikan menimba sari. Firman yang berasal dari Sabda Allah dalam Kitab Suci yang selanjutnya dijalankan ke dalam kehidupan sehari kita semua.

“Bambu-bambu yang berdiri di sekitar taman mini dan air terjun menyimpan pesan simbolis yang dianggap sebagai mata pencaharian bagi masyarakat Lamaholot. Dengan analogi bambu sebagai tumbuhan pembohong, tajam dan kadang-kadang gatal jika disentuh, menyimpan makna pula bahwa masing-masing kita adalah orang muda katolik, seburuk apapun dia, ia harus bisa memberikannya kepada orang-orang dengan bakat yang ada dan mau berbagi dengan sesama dalam kekurangan dan kelemahannya.

Menjadi sahabat: alih piring Injil.

Pusat media hasil Pantauan tim

                                                                          = Ronal =

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *