Sore sesudah Ekaristi Pembukaan, Venue utama yang ramai oleh Orang Muda Katolik Se-keuskupan Larantuka memulai ceremonial pembuka. Bapak ketua Panitia Temu akbar III Keuskupan Larantuka, Tonce Matutina, dalam sambutannya bahwa kehadiran OMK adalah kegembiraan Kota Renha, dan ini adalah sebuah panggilan Tuhan  agar Orang muda katolik menentukan keputusan Kristiani secara nyata.  Rm.Edy Saban, Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Larantuka, dengan mengubah syair lagu: “Hidup ini adalah kesempatan”, ia menggugah motivasi OMK agar menjadikan hidup sebagai pelayanan kepada Tuhan dan Temu OMk ini adalah untuk menjadi sahabat. Jangan sia-siakan perjumpaan penuh rahmat ini agar hidup Orang muda  menjadi berkat karena anugerah Tuhan.  Gubernur NTT yang diwakili asisten I, menyampaikan salam dari Gubernur NTT Bagi semua OMK, sekaligus menyatakan kebanggaannya karena selalu menghadiri even-even penting di Flores Timur sekali pun ia adalah anak tanah yang beradah di luar daerah. Yang Mulia Uskup Larantuka, Mgr Fransiskus Kopong Kung, Pr, dalam sambutannya Bliau menyapa seluruh OMK dan mengucapkan terima kasih atas kehadiran semua OMK. Bapa Uskup berpesan agar OMK  menjadi hari- hari persahabatan yang semakin hangat, semakin akrab dan menjadi hari sukacita yang dirayakan dalam kegembiraan sebagai orang katolik untuk membagi sukacita kepada siapa saja dalam perjumpaannya setiap hari.

Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli,  meneguhkan peserta temu akbar melalu sambutannya bahwa “tidak ada satu perubahanpun di dunia, tanpa orang muda. inilah kebanggaan kita di tengah kehidupan menggereja dan berbangsa. yang mengikuti kegiatan ini dengan singguh adalah mereka yang keluar dengan dua tipe manusia yakni, mampu melakukan transformasi diri dan meampu melakukan transformasdo organisasi sosial kemasyarakatan. diakhir sambutannya, dengan memohon rahmat Tuhan dan restu leluhur flores timur, Beliau membuka dengan resmi kegiatan pekan omk yang ditandai pemukulan Gong 3 kali lambang Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Theme song bergema secara langsung serasa seperti sebuah konser besar.Anak-anak SURVIVAL tampil luar biasa malam itu. Semua larut dalam suasana suka cita. Langit kota Reinha pun penuh dengan warna-warni kembang api.

Ekaristi tanggungan Dekenat Lembata membuka hari keempat Temu akbar OMK Keuskupan Larantuka. Kegiatan Ilmiah dimulai dengan seminar. Tampil sebagai pembicara yakni RD. Gusti Iri, Bpk. Ansel Atasoge, dan Bapak Wakil Bupati Flores Timur,Agus Boli,SH.

Mereka membawa OMK untuk belajar pada sejarah, bahwa pada masa tertentu dalam perjalanan Negara dan bangsa Indonesia, kita pernah berada dalam situasi sulit. Di saat itu, orang muda tampil sebagai inisiator serentak motivator. Sebuah gerakan transformasi. Mereka hadir dalam keberagaman sambil menjaga jati diri masing-masingnya. Dan jati diri itu, kekhasan nilai yang melekat sebagai kekayaan. Sebuah  perjuangan demi kemerdekaan yang menjadikan semua kita: SATU INDONESIA.

Kini, di masa ini dan di titik ini. Kita semua yang bernaung dalam Orang Muda Katolik Keuskupan Larantuka, hidup dalam sebuah situasi yang tidak hanya gampang, tapi juga sulit. Ada penjajahan baru yang sudah dan sedang terjadi. Ada korupsi, ada masalah lingkungan hidup, hoax, politisasi agama dan suku, perdagangan manusia, kemiskinan, perkelahian dan tawuran.

Realitas ini menuntut kita berbuat sesuatu untuk memaknai jati diri kita sebagai 100% Katolik dan 100% Indonesia. Dalam kesatuan lokalitas kita sebagai satu dekenat, kita coba mengais dari pengalaman-pengalaman yang tercecer, apa saja yang menjadi realitas keprihatinan kita sebagai orang Muda Katolik. Alam kita rusak, demikian juga mental kita semakin rusak: kita egois, hedonis, keras kepala, bahkan semakin senang membangun konflik horisontal, perkelahian dan tawuran. Praktek-praktek dalam kepemerintahan kita juga dapat dikatakan sudah sedikit terluka. Ada korupsi, kolusi dan nepotisme terselubung. Yang terparah adalah pergolakan politik yang memecah-belah kita, melemparkan kita jauh keluar dari identitas terberi.

Terhadap situasi ini, tentu kita tidak boleh berdiam diri dalam kenyamanan tanpa makna. Orang Muda Katolik harus ada, terlibat dan beraksi dalam proses tak berujung. Orang muda katolik harus mengambil bagian dalam perjaungan mengembalikan dan menjaga jati diri lalu memaknainya dalam citra diri yang semestinya.

Kita 100% Katolik 100% Indonesia. Kekatolikan sebagai sebuah kekhasan kita, diberi makna dan memaknai keberagaman Indonesia. itu berarti, gerakan dan perjuangan menjaga jati diri kekatolikan kita menjadi suatu yang mesti orang muda katolik lakukan saat ini. hanya dengan itulah kita bisa memberi makna bagi kemajemukan indonesia. Kita hanya bisa menjadi 100% Indonesia yang semestinya, kalau kita mau menjadi 100% Katolik.

Mari Orang Muda Katolik Keuskupan Larantuka, kita kuatkan jati diri kita. Kita hidupkan lagi nilai-nilai budaya dan nilai-nilai kekatolikan kita. Saling menghargai, rendah hati, sederhana, persaudaraan dan persatuan, silahturami dalam semangat toleransi. Nilai-nilai ini menjadi spirit dalam gerakan dan perjuangan kita. Orang muda katolik harus dalam tata dunia, menyuarakan kebenaran dan keadilan, mempertahankan nilai-nilai budaya dan kekatolikan di sini, sekarang ini, di atas tanah ini. Jangan pernah takut.

                                                                                 Pantauan Crew Media Center Temu OMK-KL

                                                                                                     =Ronald & RD. Tisto=

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *