KOTBAH MISA TIRAKATAN

OLEH; RM. EDUARDUS JEBARUS, PR

Katedral Renha Rosari, Larantuka, Rabu 14 November 2018

Keb. 3:1-9; Mat. 25:14-30 

“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia (memikul tanggung jawab) dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”

Saudara-Saudari Terkasih dalam Kristus.

Marilah kita mengikuti riwayat hidup almarhum Romo Gregorius Kedang Pr.

Romo Goris lahir di Balurebong 14 Maret 1945, dari pasutri Hendrikus Adam Kedang seorang tukang sekaligus bertugas sebagai guru agama, dan Sesilia Soba Lazar. Karena lahir dalam keadaan kurang sehat, ia segera mendapat pembaptisan darurat dari Guru Paulus Ribu Torang Tapoona. Upacara pelengkap pembaptisan diberikan oleh P. Gabriel Manek, SVD. Goris dibesarkan dalam keluarga guru agama. Oleh hal kesehatan itu Goris mendapat perhatian yang lebih dari sang ibu. “Guru Adam” tiap hari Minggu keluar memimpin ibadat di tiga tempat: Balurebong, Lewohéka dan Lewodoli. Goris kadang-kadang mengikuti ayahnya ke tempat-tempat itu, berdoa bersama umat yang lain, mendengarkan kotbah dan pengajaran agama dari sang ayah. Setiap hari bila lonceng kapela/sekolah berbunyi pada pukul 6 pagi, pukul 12 siang dan pukul 6 sore, setiap orang dalam keluarga ini berhenti dari pekerjaan dan berdoa angelus. Harus! Mama yang pendiam dan pendoa memerhatikan benar hal ini. Doa HENDAK BERLINDUNG menjadi doa wajib. Tidak ada maki, tidak ada yang keras kepala, tidak ada bicara dan perilaku kasar.

Pada tahun 1952 Goris masuk SD di Ledoblolong; tahun 1954 menerima Komuni Pertama; dan pada tahun 1955 menerima Sakramen Krisma dari tangan Mgr. Gabriel Manek. Tertarik oleh cara hidup para pastor, khususnya P. Geurts, kemudian P. Wim van der Leur, Goris pun ingin menjadi imam. Setelah tamat SD ia masuk Seminari Menengah Hokeng, Agustus 1958.

Di Hokeng ia dan teman-temannya digembleng dengan pendidikan seminari cara SVD dalam hal sanctitas, sanitas, dan sapientia (kekudusan, kesehatan, dan ilmu pengetahuan). Goris  tidak pintar amat, pernah tahan kelas lima, namun tekun belajar dan rajin membaca.

Pada tahun 1966, Goris beralih ke Ritapiret menjalani tahun rohani calon imam diosesan Keuskupan Larantuka, disusul kuliah filsafat di Ledalero sejak awal tahun 1967.

Januari – September 1969 Frater Goris menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Sekolah Teknik St. Yusuf Larantuka. September 1969 – Desember 1970 TOP dilanjutkan di Paroki Aliuroba. Di Aliuroba Frater Goris mengajar di SMP dan Kursus Guru Honor Daerah (Guru Honda). Kembali 1971 ke Ritapiret, Frater Goris menempuh kursus teologi. P. Darius Nggawa menugaskannya menjaga perpustakaan.

Pada 15 Juni 1975 Fr. Goris ditahbiskan di Ledoblolong oleh Mgr. Darius Nggawa. Kembali ke Ritapiret, ia mendapat tugas asistensi di Tilang. Pada tanggal 12 Desember 1975, ia mendapat SK Uskup bertugas di Waiwerang. Sesudah merayakan Natal di Mingar, Rm. Goris masuk ke Waiwerang, hidup bersama Deken Adonara dan Pastor Waiwerang, P. Gerbrand Kramer. Ia juga menangani Stasi Kolilanang-Kolimasang. Dari P. Kramer Rm. Goris belajar: Katekese gaya Kramer, Liturgi gaya Kramer, dan pembinaan persiapan nikah gaya Kramer.

Mulai Natal 1976 Rm. Goris menangani Paroki Wayangona, menggantikan P. Bernhard Müller, dengan basis Waiwerang. Keluar dari Waiwerang hari Kamis, pulang hari Senin. Pembicaraan dengan Kramer di mana pun dan kapan pun, hanya tentang pastoral. Imam muda ini selalu tekun dan berminat mendengar, apalagi kalau P. Kramer mengatakan, “Dengan sebenarnya…”. Dipengaruhi oleh P. Kramer, Wayangona mulai menjalankan Ibadat Hari Minggu Tanpa Imam, persiapan khusus satu minggu menjelang komuni pertama, dan misa umat basis. Ia juga menangani pembangunan gedung sekolah lima kelas SDK Wayangona.

Dalam penataran para imam yang diadakan di Lewoleba 7-10 Januari 1977, dibentuk PEPIMDILA (Persatuan Para Imam Muda Dioses Larantuka), dan Rm. Goris menjadi ketua yang pertama.

Sejak 11 Januari 1979 Rm. Goris bertugas di Paroki Bama. Seperti yang dibuat di Wayangona, di Bama ia menyiapkan “kader” untuk pemimpin upacara dan kotbah IHMTI; persiapan akhir untuk Komuni Pertama satu minggu penuh plus misa di Umat Basis. Ia mulai dengan KPP (Kursus Persiapan Perkawinan). Inovasi-inovasi ini semakin mendapat tempatnya di dalam kegiatan Pepimdila dan Repelita Keuskupan di kemudian hari.

Dalam bulan Mei-Juni-Juli 1980 Rm. Goris mengikuti Kursus Imam di Yogyakarta tentang pastoral paroki. Pada 29 Oktober 1981 Rm. Goris beralih dari Bama ke Larantuka, menjadi anggota tim pastor Paroki Katedral Larantuka. Usaha pastoral penting yang dijalankannya di Larantuka antara lain: :

  • Persiapan penerimaan sakramen (Baptis dan Komuni pertama).
  • Persiapan petugas APP (Katorde dan Katekese Sekolah).
  • Penataran DPP dan kaderisasi calon DPP.
  • Struktur Paroki (Lingkungan). Atas nasihat Mgr. Darius nama-nama lingkungan di Paroki Katedral Larantuka diberi “nama serani”.
  • Lingkungan Larantuka     : Maria Alleluya (Patung Maria Alleluya)
  • Lingkungan Balela : Santo Philipus (kapela St. Philipus).
  • Lingkungan Pohon Sirih : Benteng Daud (ada istana raja)
  • Lingkungan Lohayong : Mater Dolorosa (ada Kapela Tuan Ana).
  • Lingkungan Lokea : Christus Salvator (rumah/kantor pejabat pemerintah)
  • Lingkungan Posto : Nossa Senhora (pelindung gereja Katedral)
  • Lingkungan Lawerang : Santo Antonius (mengenang Mgr. Antonius Thijssen yang mendirikan SDK Lawerang).
  • Lingkungan Pohon Bao : Santo Cornelius (mengenang P. Cornelis van Iersel Pastor Larantuka 1957-1965, yang memberi perhatian khusus kepada umat perdana di lingkungan ini).
  • Media komunikasi dan informasi untuk umat: NOSSA SENHORA, terbit setiap minggu, stensilan 16 halaman, sejak tahun 1986 hingga tahun 1990. Dari sudut pandang dokumentasi, buletin yang satu ini amat membantu (Ruangan Kitab Suci; Bina Liturgi; Pendidikan dalam Keluarga).
  • Organisasi Rohani, antara lain: Konfreria, St. Anna, St. Agnes, St. Aloysius, dan Legio Mariae.

Sejak 1990-2004, Rm. Goris dipercayakan bertugas sebagai Deken Larantuka, menggantikan Rm. Gerardus Muran Korohama. “Tidak ada sekolah untuk menjadi deken”, kata Rm. Goris. Ia menjalankan tugasnya bermodal pengalaman sebagai pastor paroki, rajin, tekun, tertib, dan cermat. Ia mengakui, Mgr. Darius Nggawa, SVD berperan besar dalam tugasnya sebagai Deken Larantuka, dengan petunjuk, buku-buku atau pertemuan empat mata. Andalannya yang lain adalah kerja sama dengan rekan imam, para pastor. Ia tidak ragu meminta rekan imam yang mampu untuk membantunya. Rm. Goris mengatakan, ia belajar banyak dari rekan iman. Dalam mengatasi masalah yang dihadapi umat yang datang kepadanya, ia tidak menyepelekan atau meminggirkan para pastornya.

Sejak 8 Maret 1982 hingga 20 Januari 2011, Rm. Goris mengemban tugas sebagai Delegatus Kitab Suci (Delkit). 29 tahun lamanya ia menekuni karya kerasulan yang satu ini, sampai merasuk ke dalam kehidupannya.

  • Dalam tugasnya sebagai Delkit, ia mengikuti Kursus Penggerak Kerasulan Kitab Suci di Yogya, April-Juli 1985 (Groenen, Suharyo, Hadiwiyata, Darmawijaya).
  • Sejak D2-3 Filial IPI Malang di Waibalun dibuka tahun 1991, ia mulai mengajar Kitab Suci dilanjutkan dengan STP Reinha hingga tahun 2013.
  • Agustus-Desember tahun 1988 ikut Biblical Renewal Course di Nemi, Roma
  • 14-26 November 1994 ia mengikuti kursus AsIPA yang diselenggarakan oleh Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) di Manila.
  • Pertemuan rohani semisal khalwat dan rekoleksi yang ia bimbing pasti bernafaskan Kitab Suci. Retret yang ia bimbing biasa ia sebut: RETRET BIBLIS.
  • Setiap tahun ia menyusun bahan katekese dan ibadat untuk Bulan Kitab Suci, bulan September, dan menyiapkan komentar mengenai teks Kitab Suci yang digunakan dalam APP (Aksi Puasa Pembangunan). Ia juga menyiapkan pertemuan Kitab Suci untuk Adventus. Ketika banyak orang suka berleha-leha dan menunda-nunda, Rm. Goris lebih suka bekerja teratur dan tuntas pada waktunya!
  • Melihat pengalaman serta intensitas keterlibatannya dalam kerasulan Kitab Suci, jangan heran kalau Rm. Goris pernah dipilih menjadi Penghubung Delegatus Kitab Suci Regio Nusa Tenggara untuk satu dekade, 10 tahun!

Pada tahun 2004 – 2011, Uskup Larantuka Mgr. Fransiskus Kopong Kung  memercayakan tugas Sekretaris Jenderal kepada Rm. Goris. Sesudah itu ia beristirahat di rumahnya di KBG Ave Maris Stella, Lingkungan St. Paulus, Kota Sau II, Paroki Lebao, yang mulai dihuninya pada tahun 2004, sebelum berpindah ke Lewoleba pada tahun 2016.

 

Saudara-Saudari yang saya kasihi dalam Kristus.

Menyimak riwayat Romo Goris ini, serta sejauh pengalaman pastoral bersamanya sejak tahun 1975, hati saya memilih teks Injil Matius yang kita dengar tadi, untuk direnungkan dalam perayaan ekaristi ini.

Dalam bentuk aslinya, makna perumpamaan ini dapat dikatakan begini: sama seperti seorang tuan yang telah mempercayakan uang kepada hamba-hambanya dengan maksud suaya modalnya bertambah besar selama ia tidak di tempat, lalu setelah kembalinya mengganjar hamba-hamba yang berbuat sesuai dengan harapannya dan menghukum hamba yang mengecewakannya, demikian pula Allah yang telah mempercayakan sabda-Nya kepada umat-Nya dan pimpinannya agar bermanfaat dan membawa hasil seperti yang diharapkan-Nya, akan mengganjar mereka yang bertindak benar dan akan menghukum mereka yang “mengamankan”, mendiamkan, malah memenjarakan sabda-Nya dalam praktik yuridis.

Kalau diterapkan dalam hidup orang Kristen di dalam Gereja, maka maknanya mengalami penyesuaian. Sama seperti seorang tuan yang mempercayakan sejumlah uang kepada para hambanya agar selama ia tidak hadir modal itu bertambah besar, mengganjar hamba-hamba yang memenuhi harapannya dan menghukum keras hamba yang mengecewakan karena hambanya hanya mengamankan uang itu, demikian pun Kristus akan mengganjar atau menghukum setiap murid-Nya pada saat kedatangan-Nya, menurut karunia-karunia spiritual yang dipercayakan-Nya untuk dikembangkan oleh para hamba itu.

 

Di dalam diri Romo Goris, yang kelihatan lemah fisik sejak lahir… dengan kepekaan iman yang diperoleh dalam keluarga sederhana dan masa kanak-kanak perdesaan, dengan tingkat studi pas-pasan, semuanya merupakan talenta untuk tugas kegembalaan seorang imam yang diembannya. Di tangan Romo Goris, modal dari Tuhan itu ia kembangkan dalam semangat seorang hamba yang rajin, tekun, setia, sabar, dan saleh. Ia, menurut saya, tidak memendam talenta yang Tuhan berikan, atau memboroskannya untuk kesenangan pribadi. Ia tahu benar kepada siapa ia percaya dan mengabdi, lalu mengembangkan kemampuannya sedapat mungkin dalam tugas pelayanannya. Ketika Tuhan kemudian mengadakan perhitungan atas apa yang sudah dipercayakan kepadanya, Romo Goris bisa mengatakan: “Tuan, lima talenta, (dua talenta), Tuan percayakan kepadaku: lihat aku telah beroleh laba lima talenta (dua talenta).” Saya membayangkan, Romo Goris mengucapkan kata-kata ini dalam rasa yang berbaur: rendah hati, keteguhan diri, gembira dan syukur. Di mata Tuhan, Romo Goris berhasil dalam menjalankan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Mulai dari perkara-perkara kecil… lalu ke perkara-perkara besar, yang selalu telah dijalankannya dengan penuh tanggung jawab. Betapa tidak, kita simak dalam tanggapan sang Tuhan; “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia (memikul tanggung jawab) dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.” Lalu, di akhir ziarah hidupnya di dunia ini, setelah menuntaskan tugasnya sebagai hamba Tuhan, Tuhan mengatakan kepadanya: “Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu”, di dalam kehidupan yang abadi. Amin.

 

 

                                                                           Kotbah Romo Eduardus Jebarus

                                                                        Ketua SEKPAS KEUSKUPAN LARANTUKA

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *